|
|
|
Pengertian Fiqih Islam
Pentingnya Mempelajari
Fiqih Islam
Allah
telah menetapkan hukum dari segala sesuatu dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Para ahli ushul fiqih kemudian menggali pokok-pokok pemahaman dari teks-teks
yang ada pada keduanya. Dengan memanfaatkan jerih payah para ahli ushul fiqih
tersebut, para ahli fiqih kemudian menjelaskan hukum dari segala sesuatu.
Penjelasan-penjelasan tersebut tertuang dalam Fiqih Islam. Jadi dengan
mempelajari Fiqih Islam, kita akan mengetahui hukum dari segala sesuatu,
sehingga kita bisa menjalani kehidupan sesuai dengan hukum-hukum tersebut. Dengan
menjalani kehidupan sesuai dengan hukum-hukum Allah tersebut, kita akan
selamat dan bahagia di dunia dan di akhirat.
Keutamaan Mempelajari
Fiqih Islam
Ketentuan-ketentuan Umum dalam Mempelajari Fiqih
Islam
1.
Dilarang
membahas hal-hal yang belum terjadi sampai benar-benar terjadi.
2.
Hendaknya
menjauhkan diri dari terlalu banyak bertanya dan berbelit-belit.
3.
Hendaknya
menjauhkan diri dari perbedaan dan perpecahan dalam agama.
4.
Hendaknya
mengembalikan masalah-masalah yang diperselisihkan kepada Al-Qur’an dan
As-Sunnah.
Mengenal Para Fuqaha Besar
Dari kalangan para sahabat
Yang
paling banyak berfatwa
1.
Umar
ibnul Khaththab
2.
Ali
ibn Abi Thalib
3.
Abdullah
ibn Mas’ud
4.
‘Aisyah
Ummul Mukminin
5.
Zaid
ibn Tsabit
6.
Abdullah ibn Abbas
7.
Abdullah
ibn Umar
Yang
jumlah fatwanya pertengahan
1.
Abu
Bakr Ash-Shiddiq
2.
Ummu Salamah
3.
Anas
ibn Malik
4.
Abu
Sa’id Al-Khudri
5.
Abu
Hurairah
6.
‘Utsman
ibn ‘Affan
7.
Abdullah
ibn ‘Amr ibnul ‘Ash
8.
Abdullah
ibn Zubair
9.
Abu
Musa Al-Asy’ari
10. Sa’d ibn Abi Waqqash
11. Salman Al-Farisi
12. Jabir ibn ‘Abdillah
13. Mu’adz ibn Jabbal
Dari kalangan tabi’in
Fuqaha
Madinah:
1.
Sa’id
ibnul Musayyab
2.
‘Urwah
ibn Zubair
3.
Al-Qasim
ibn Muhammad
4.
Khaarijah
ibn Zaid
5.
Abu
Bakr ibn Abdir Rahman
6.
Sulaiman
ibn Yasar
7.
‘Ubaidullah
ibn Abdillah
Fuqaha
Makkah:
1.
‘Athaa’
ibn Abi Rabbah
2.
Thawus
ibn Kaisan
3.
Mujahid
ibn Jabar
4.
‘Ubaid
ibn ‘Umair
5.
‘Amr
ibn Dinar
6.
Abdullah ibn Abi Mulaikah
7.
Abdur
Rahman ibn Saabith
8.
‘Ikrimah
Fuqaha
Bashrah:
1.
‘Amr
ibn Salamah
2.
Abu
Maryam Al-Hanafi
3.
Ka’b
ibn Saud
4.
Al-Hasan
Al-Bashri
5.
Muhammad
ibn Siiriin
Fuqaha
Kufah (murid-murid Ali dan Ibn Mas’ud):
1.
‘Alqamah
ibn Qays An-Nakha’i
2.
Al-Aswad
ibn Yazid An-Nakha’i
3.
Masruq
ibnul Ajda’ Al-Hamdani
4.
Syuraih
ibnul Haarits Al-Qadhi
Fuqaha
Syam
Fuqaha
Mesir
Fuqaha
Qairawan
Fuqaha
Andalus
Imam-imam Madzhab Fiqih
1.
Abu
Hanifah An-Nu’man ibn Tsabit
2.
Malik
ibn Anas ibn Malik ibn Abi ‘Aamir
3.
Muhammad
ibn Idris ibnul ‘Abbas Asy-Syafi’i
4.
Ahmad
ibn Hanbal
5.
Sufyan
Ats-Tsauri
6.
Al-Auza’i
7.
Al-Laitsi
8.
Dawud
Azh-Zhahiri
|
Membangun Generasi Muda
Sehat, Kuat, Cerdas, Kreatif, Inovatif, Beriman & Bertaqwa.
Alamat : Jl. H. Amir Machmud, gg. H. Abdul Syukur RT.004 RW.001 Rancabelut. Kota Cimahi.
Selasa, 10 September 2013
FIQIH ISLAM
Sabtu, 26 Januari 2013
Memperingati Maulid nabi Muhammad.saw
Dengan memperingati Maulid nabi Muhammad.saw mari kita bersama-sama mentafakuri tentang kejadian bencana yg terjadi diindonesia yg mana bencana muncul secara bertubi-tubi jawabannya hanya satu yaitu dunia sudah bosan ditempati oleh manusia2 yg durhaka dan maksiat kepada Allah.swt
Mencermati bencana yg timbul akhir2 ini kadang2 kita lebih suka menyalahkan pihak lain padahal bencana itu sendiri disebabkan oleh kelalaian diri sendiri dan kita tidak mau mengakuinya karena lebih senang melimpahkan kesalahan kepada pihak lain,kemaksiatan merajalela dimana2 sehingga azab allah turun.
Solusinya adalah kita harus kembali lagi kepada agama, berpegang teguh kepada al-qur'an dan sunnah.
Mencermati bencana yg timbul akhir2 ini kadang2 kita lebih suka menyalahkan pihak lain padahal bencana itu sendiri disebabkan oleh kelalaian diri sendiri dan kita tidak mau mengakuinya karena lebih senang melimpahkan kesalahan kepada pihak lain,kemaksiatan merajalela dimana2 sehingga azab allah turun.
Solusinya adalah kita harus kembali lagi kepada agama, berpegang teguh kepada al-qur'an dan sunnah.
Kamis, 20 Desember 2012
Tata Cara Khutbah Jum'at
Bacaan / Doa dan Rukun khatib jumat
Tata cara pelaksanaan shalat Jum’at, yaitu :
1. Khatib naik ke atas mimbar setelah tergelincirnya matahari (waktu dzuhur), kemudian memberi salam dan duduk.
2. Muadzin mengumandangkan adzan sebagaimana halnya adzan dzuhur.
3. Khutbah pertama: Khatib berdiri untuk melaksanakan khutbah yang dimulai dengan hamdalah dan pujian kepada Allah SWT serta membaca shalawat kepada Rasulullah SAW. Kemudian memberikan nasehat kepada para jama’ah, mengingatkan mereka dengan suara yang lantang, menyampaikan perintah dan larangan Allah SWT dan RasulNya, mendorong mereka untuk berbuat kebajikan serta menakut-nakuti mereka dari berbuat keburukan, dan mengingatkan mereka dengan janji-janji kebaikan serta ancaman-ancaman Allah Subhannahu wa Ta’ala. Kemudian duduk sebentar
4. Khutbah kedua: Khatib memulai khutbahnya yang kedua dengan hamdalah dan pujian kepadaNya. Kemudian melanjutkan khutbahnya dengan pelaksanaan yang sama dengan khutbah pertama sampai selesai
5. Khatib kemudian turun dari mimbar. Selanjutnya muadzin melaksanakan iqamat untuk melaksanakan shalat. Kemudian memimpin shalat berjama’ah dua rakaat dengan mengeraskan bacaan.
1. Khatib naik ke atas mimbar setelah tergelincirnya matahari (waktu dzuhur), kemudian memberi salam dan duduk.
2. Muadzin mengumandangkan adzan sebagaimana halnya adzan dzuhur.
3. Khutbah pertama: Khatib berdiri untuk melaksanakan khutbah yang dimulai dengan hamdalah dan pujian kepada Allah SWT serta membaca shalawat kepada Rasulullah SAW. Kemudian memberikan nasehat kepada para jama’ah, mengingatkan mereka dengan suara yang lantang, menyampaikan perintah dan larangan Allah SWT dan RasulNya, mendorong mereka untuk berbuat kebajikan serta menakut-nakuti mereka dari berbuat keburukan, dan mengingatkan mereka dengan janji-janji kebaikan serta ancaman-ancaman Allah Subhannahu wa Ta’ala. Kemudian duduk sebentar
4. Khutbah kedua: Khatib memulai khutbahnya yang kedua dengan hamdalah dan pujian kepadaNya. Kemudian melanjutkan khutbahnya dengan pelaksanaan yang sama dengan khutbah pertama sampai selesai
5. Khatib kemudian turun dari mimbar. Selanjutnya muadzin melaksanakan iqamat untuk melaksanakan shalat. Kemudian memimpin shalat berjama’ah dua rakaat dengan mengeraskan bacaan.
Adapun rukun khutbah Jumat paling tidak ada lima perkara.
1. Rukun Pertama: Hamdalah
1. Rukun Pertama: Hamdalah
Khutbah jumat itu wajib dimulai dengan hamdalah. Yaitu lafaz
yang memuji Allah SWT. Misalnya lafaz alhamdulillah, atau innalhamda lillah, atau ahmadullah.
Pendeknya, minimal ada kata alhamd dan lafaz Allah, baik di khutbah
pertama atau khutbah kedua.
Contoh
bacaan:
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا و مِنْ َسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
Innal hamdalillahi nahmaduhu wa nasta’iinuhu wa nastaghfiruhu wa
na’uudzubillaahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyiaati a’maalinaa
mayyahdihillaahu falaa mudhillalahu wa mayyudhlilfalaa haadiyalahu
2. Rukun Kedua: Shalawat kepada Nabi SAW
Shalawat kepada nabi Muhammad SAW harus dilafadzkan dengan jelas, paling tidak ada kata shalawat. Misalnya ushalli ‘ala Muhammad, atau as-shalatu ‘ala Muhammad, atau anamushallai ala Muhammad.
Shalawat kepada nabi Muhammad SAW harus dilafadzkan dengan jelas, paling tidak ada kata shalawat. Misalnya ushalli ‘ala Muhammad, atau as-shalatu ‘ala Muhammad, atau anamushallai ala Muhammad.
Contoh
bacaan:
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
Allahumma sholli wa sallam ‘alaa muhammadin wa ‘alaa alihii wa ash
haabihi wa man tabi’ahum bi ihsaani ilaa yaumiddiin.
3. Rukun Ketiga: Washiyat untuk Taqwa
Yang dimaksud dengan washiyat ini adalah perintah atau ajakan atau anjuran untuk bertakwa atau takut kepada Allah SWT. Dan menurut Az-Zayadi, washiyat ini adalah perintah untuk mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Sedangkan menurut Ibnu Hajar, cukup dengan ajakan untuk mengerjakan perintah Allah. Sedangkan menurut Ar-Ramli,washiyat itu harus berbentuk seruan kepada ketaatan kepada Allah.
Lafadznya sendiri bisa lebih bebas. Misalnya dalam bentuk kalimat: “takutlah kalian kepada Allah”. Atau kalimat: “marilah kita bertaqwa dan menjadi hamba yang taat”.
Yang dimaksud dengan washiyat ini adalah perintah atau ajakan atau anjuran untuk bertakwa atau takut kepada Allah SWT. Dan menurut Az-Zayadi, washiyat ini adalah perintah untuk mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Sedangkan menurut Ibnu Hajar, cukup dengan ajakan untuk mengerjakan perintah Allah. Sedangkan menurut Ar-Ramli,washiyat itu harus berbentuk seruan kepada ketaatan kepada Allah.
Lafadznya sendiri bisa lebih bebas. Misalnya dalam bentuk kalimat: “takutlah kalian kepada Allah”. Atau kalimat: “marilah kita bertaqwa dan menjadi hamba yang taat”.
Contoh
bacaan:
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
yaa ayyuhalladziina aamanuu ittaqullaaha haqqa tuqaatihi wa laa
tamuutunna ilaa wa antum muslimuun
Ketiga rukun di atas harus terdapat dalam kedua khutbah Jumat
itu.
4. Rukun Keempat: Membaca ayat Al-Quran pada salah satunya
Minimal satu kalimat dari ayat Al-Quran yang mengandung makna lengkap. Bukan sekedar potongan yang belum lengkap pengertiannya. Maka tidak dikatakan sebagai pembacaan Al-Quran bila sekedar mengucapkan lafadz: “tsumma nazhar”.
Tentang tema ayatnya bebas saja, tidak ada ketentuan harus ayat tentang perintah atau larangan atau hukum. Boleh juga ayat Quran tentang kisah umat terdahulu dan lainnya.
4. Rukun Keempat: Membaca ayat Al-Quran pada salah satunya
Minimal satu kalimat dari ayat Al-Quran yang mengandung makna lengkap. Bukan sekedar potongan yang belum lengkap pengertiannya. Maka tidak dikatakan sebagai pembacaan Al-Quran bila sekedar mengucapkan lafadz: “tsumma nazhar”.
Tentang tema ayatnya bebas saja, tidak ada ketentuan harus ayat tentang perintah atau larangan atau hukum. Boleh juga ayat Quran tentang kisah umat terdahulu dan lainnya.
Contoh
bacaan:
فَاسْتبَقُِوا اْلخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونوُا يَأْتِ بِكُمُ اللهُ جَمِيعًا إِنَّ اللهَ عَلىَ كُلِّ شَئٍ قَدِيرٌ
Fastabiqul khairooti ayna maa takuunuu ya’ tinikumullahu jamii’an
innallaaha ‘alaa kulli syaiin qodiiru (QS. Al-Baqarah, 2 : 148)
أَمّا بَعْدُ
ammaa ba’du..
Selanjutnya berwasiat untuk diri sendiri dan jamaah agar selalu
dan meningkatkan taqwa kepada Allah SWT, lalu mulai berkhutbah sesuai topiknya.
Memanggil jamaah bisa dengan panggilan ayyuhal muslimun, atau ma’asyiral muslimin rahimakumullah, atau “sidang jum’at yang dirahmati Allah”.
Memanggil jamaah bisa dengan panggilan ayyuhal muslimun, atau ma’asyiral muslimin rahimakumullah, atau “sidang jum’at yang dirahmati Allah”.
……. isi khutbah pertama ………
Setelah di
itu menutup khutbah pertama dengan do’a untuk seluruh kaum muslimin dan
muslimat.
Contoh
bacaan:
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
barakallahu lii wa lakum fill qur’aanil azhiim wa nafa’nii wa iyyaakum
bima fiihi minal aayaati wa dzikril hakiim. Aquulu qowlii hadzaa wa
astaghfirullaaha lii wa lakum wa lisaa iril muslimiina min kulli danbin
fastaghfiruuhu innahu huwal ghafuurur rahiimu.
Lalu duduk sebentar untuk memberi kesempatan jamaah jum’at untuk
beristighfar dan membaca shalawat secara perlahan.
Setelah itu, khatib kembali naik mimbar untuk memulai khutbah kedua. Dilakukan dengan diawali dengan bacaaan hamdallah dan diikuti dengan shalawat.
Setelah itu, khatib kembali naik mimbar untuk memulai khutbah kedua. Dilakukan dengan diawali dengan bacaaan hamdallah dan diikuti dengan shalawat.
Contoh
bacaan:
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَلِيُّ الصَّالِحِينَ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَمُ الأَنْْْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ., أَمَّابعد,
Innal hamdalillahi robbal’aalamiin wa asyhadu an laa ilaaha illahllaahu
wa liyyash shalihiina wa asyhadu anna muhammadan khaatamul anbiyaai wal
mursaliina allahumma shalli ‘alaa muhammadan wa ‘alaa aali muhammadin kamaa
shollayta ‘alaa ibroohiima wa ‘alaa alii ibroohiim, innaka hamiidum majiid.Wa
barok ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin kamaa baarokta ‘alaa ibroohiima
wa ‘alaa alii ibroohiim, innaka hamiidum majiid.
Ammaa ba’ad..
Ammaa ba’ad..
Selanjutnya
di isi dengan khutbah baik berupa ringkasan, maupun hal-hal terkait dengan
tema/isi khutbah pada khutbah pertama yang berupa washiyat taqwa.
……. isi khutbah kedua ………
5. Rukun Kelima: Doa untuk umat Islam di khutbah kedua
Pada bagian akhir, khatib harus mengucapkan lafaz yang doa yang intinya meminta kepada Allah kebaikan untuk umat Islam. Misalnya kalimat: Allahummaghfir lil muslimin wal muslimat . Atau kalimat Allahumma ajirna minannar .
Pada bagian akhir, khatib harus mengucapkan lafaz yang doa yang intinya meminta kepada Allah kebaikan untuk umat Islam. Misalnya kalimat: Allahummaghfir lil muslimin wal muslimat . Atau kalimat Allahumma ajirna minannar .
Contoh
bacaan do’a penutup:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.
Allahummagh fir lilmuslimiina wal muslimaati, wal mu’miniina wal mu’minaatil
ahyaa’I minhum wal amwaati, innaka samii’un qoriibun muhiibud da’waati.
Robbanaa laa tuaakhidznaa in nasiinaa aw akhtho’naa. Robbanaa walaa tahmil ‘alaynaa ishron kamaa halamtahuu ‘alalladziina min qoblinaa.Robbana walaa tuhammilnaa maa laa thooqotalanaa bihi, wa’fua ‘annaa wagh fir lanaa war hamnaa anta maw laanaa fanshurnaa ‘alal qowmil kaafiriina.
Robbana ‘aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhiroti hasanah wa qinaa ‘adzaabannaar. Walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin.
Robbanaa laa tuaakhidznaa in nasiinaa aw akhtho’naa. Robbanaa walaa tahmil ‘alaynaa ishron kamaa halamtahuu ‘alalladziina min qoblinaa.Robbana walaa tuhammilnaa maa laa thooqotalanaa bihi, wa’fua ‘annaa wagh fir lanaa war hamnaa anta maw laanaa fanshurnaa ‘alal qowmil kaafiriina.
Robbana ‘aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhiroti hasanah wa qinaa ‘adzaabannaar. Walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin.
Selanjutnya khatib turun dari mimbar yang langsung diikuti
dengan iqamat untuk memulai shalat jum’at. Shalat jum’at dapat dilakukan dengan
membaca surat al a’laa dan al ghasyiyyah, atau
surat bisa juga surat al jum’ah, al kahfi atau yang lainnya.
Langganan:
Postingan (Atom)